Work dari Café Tanpa Mengganggu Orang: Panduan Etika yang Sering Dilupakan
Duduk 4 jam pesan dua teh? Nggak apa-apa, asal tahu etikanya. Panduan singkat work dari kafe untuk remote worker Indonesia.
Maya Putri
6 November 202689 dibaca
Sudah dua tahun kerja remote, dan kafe adalah kantor kedua saya. Tapi di banyak diskusi remote worker, satu topik jarang dibahas: **etika.** Bagaimana cara kerja di kafe tanpa jadi beban bagi pemiliknya — bahkan menjadi pelanggan yang mereka sayangi?
1. Pilih meja sesuai jam
Jam sepi (09.00–16.00 di kafe non-mall) = meja besar boleh. Jam sibuk (weekend, after-office) = meja kecil di pojok. Aturan simpelnya: **jangan menduduki meja empat kursi sendirian saat orang lain berdiri mencari tempat.**
2. Rumus konsumsi yang adil
Patokan yang saya pakai: **Rp20.000–25.000 per jam kerja di kafe.** Kerja 4 jam = pesan makan + minum sekitar Rp80-100 ribu. Kalau hanya minum, makan dengan takaran waktu, bukan takaran nafsu.
3. Keamanan yang sering diabaikan
- **WiFi publik bukan WiFi aman.** Hindari login akun penting saat terhubung tanpa VPN.
- Lock laptop setiap kali meninggalkan meja, bahkan cuma ke kasir.
- Jangan bikin orang lain bisa membaca layar yang isinya data klien.
4. Panggilan video? Pakai kesepakatan tak tertulis
Butuh meeting? Pakai earphone, duduk jauh dari meja penuh, dan bicara dengan volume "kafe", bukan "ruang rapat". Lebih baik lagi: pilih kafe dengan area outdoor atau ruang meeting.
5. Jadilah pelanggan yang diingat
Sapa barista, tumpahkan sendiri remah-remah, dan — ini penting — **jangan pakai colokan tanpa memesan apa pun.** Listrik itu bagian dari harga kopi, bukan hak gratis.
Bonus: setup yang bikin kerja makin nyaman
Kopi jadi teman kerja, tapi jangan biarkan tenggat jadi drama. Saya selalu menyisipkan [Pomodoro Timer](/tools/pomodoro-timer) di satu tab dan menyimpan ide mendadak di [Catatan](/dashboard/catatan) RuangKumpul.
Kafe yang baik adalah mitra kerja. Perlakukan mereka seperti mitra, dan mereka akan menyimpan kursi favoritmu.